Pendidikan Jadi Kunci Konvergensi Pemahaman Keislaman di Indonesia

JAKARTA, investor.id – Pendidikan menjadi kunci konvergensi pemahaman keislaman di Indonesia yang terus berlangsung, sebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti. Dengan demikian, akan muncul generasi baru Muslim yang memiliki visi keislaman terbuka dengan tetap menjaga tradisi keislaman yang kuat.
“Mereka itu adalah kekuatan Islam Indonesia masa depan, menjadi kekuatan Islam di Indonesia yang tidak dimiliki negara lain,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (10/3/2025).
Pandangan itu disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti saat memberikan tausyiyah di depan para undangan dan santri Pesantren Cendekia Amanah, Kalimulya, Depok. Acara tersebut bertajuk Berbagi Cahaya Ramadan yang dihelat Pesantren Cendekia Amanah.
Turut hadir pula Deputi 1 Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olah Raga Prof. Dr. Asrorun Ni’am Sholeh, Wali Kota Depok Dr Supian Suri, Direktur GTK Madrasah Kemenag, Pendiri ESQ 165 Dr. Ary Ginanjar Agustian, Ketua Umum Yayasan Muslim Sinar Mas (YMSM) Dr. Saleh Husin, serta unsur Pemipinan Muhamamdiyah, Nahdlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia.
Mengawali tausiyahnya, Abdul Mu’ti mengaku terhormat dan menghargai cara Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Kiai Dr. Cholil Nafis memuliakan tamunya. Menurut Mu’ti, tidak ada jarak antara keduanya. Meski berada di dua organisasi yang berbeda, namun memiliki pemikiran yang sama.
“Beliau ini memang biasa menjadi partner saya di beberapa stasiun televisi untuk acara-acara yang berkaitan dengan ceramah agama Islam, dengan beliau tidak perlu diarahkan, tanpa ada skenario, insyaallah sudah saling mengisi sehingga selama satu setengah jam siaran itu tanpa ada salah,” ucapnya.
“Ini karena kami sudah memiliki chemistry yang sama, dan kalau semua umat itu seperti Kiai Cholil dan mungkin juga bisa seperti saya, Indonesia ini akan bebas dari persoalan-persoalan khilafiyah dan furukiyah,” lanjutnya yang mendapat tepukan meriah hadirin.
Melihat kenyataan sekarang, Mu’ti menerjemahkan organisasi Nahdlatul Ulama bukan kebangkitan para ulama, tetapi kebangkitan kaum cendekiawan, atau kebangkitan kaum intelektual. Kenyataan yang berkembang di kalangan NU banyak yang menguasai kitab putih, selain tentu kitab kuning.
Sering dibuat perbandingan kalau NU kitab kuning, Muhammadiyah kitab putih. “Alhamdulillah NU yang menguasai kitab putih banyak, Muhammadiyah menguasai kitab kuning juga banyak,” lanjut dia.
Ia melanjutkan, dahulu orang menyebut Muhammadiyah modernis, NU tradisionalis sudah tidak relevan lagi. Mengutip buku “Fazrul Rachman Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Traditions” sekitar 1982-an memang masih menyebut kesenjangan modernis dan tradisional. Mu’ti menambahkan, kesenjangan kelompok modernis dan kaum tradisionalis kini hampir tidak ada lagi.
“Pertemuan seperti ini dimana tokoh dari berbagai ormas sangat cair, itu tidak terjadi di negara Muslim lain,” tukasnya.
Abdul Mu’ti menjelaskanya dengan mengutip Prof Kuntowijoyo dalam buku “Muslim Tanpa Masjid”, buku terbitan 1994 yang menjelaskan meski banyak generasi Muslim berasal dari latar belakang yang berbeda-beda tetapi kemudian memiliki sisi keislaman yang hampir sama.
Menurut Prof Kunto yang disampaikan Abdul Mu’ti, ada tiga konvergensi yang terjadi. Pertama, konvergensi antara kelompok tradisional dan kelompok modernis sehingga tidak ada lagi perbedaan tajam antara NU dan Muhammadiyah.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV