Senin, 24 Maret 2025

Pindar Berguguran, Minat Bank Masih Besar

Penulis : Prisma Ardianto
23 Feb 2025 | 17:29 WIB
BAGIKAN
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. (Sumber: OJK)
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae. (Sumber: OJK)

JAKARTA, investor.id – Isu layanan pinjaman daring (pindar) yang berguguran tak lantas menyurutkan bank untuk menghentikan penyaluran kredit ke platform fintech p2p lending. Bahkan, kontribusi pendanaan dari bank di fintech p2p lending makin besar.

Seperti yang diketahui, jumlah fintech p2p lending yang memberi layanan pindar menyusut seiring cabut izin usaha (CIU) dari otoritas jasa keuangan. Dua pindar dengan nama besar yaitu Tanifund dan Investree tumbang dicabut izin usahanya (CIU) pada tahun 2024, sedangkan Jembatan Emas dan Dhanapala memutuskan mengembalikan izin usaha.

Dengan demikian, jumlah fintech p2p lending hingga akhir 2024 tersisa 97 entitas. Jumlahnya berkurang 4 entitas dibanding pada akhir 2023 yang sebanyak 101 entitas.

Advertisement

Meski begitu, kembali bergugurannya jumlah penyedia layanan pindar tak menyurutkan minta bank menjadi lender di fintech p2p lending. Bahkan, penempatan dana bank di fintech p2p lending semakin signifikan dalam beberapa waktu belakangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menyampaikan, nominal outstanding pinjaman dari fintech p2p lending pada Desember 2024 tercatat sebesar Rp 77,07 triliun, dengan tren yang semakin meningkat dibandingkan pada November 2024 sebesar Rp 75,60 triliun.

“Pendanaan perbankan pada Desember 2024 masih mendominasi penyaluran pembiayaan P2P Lending sebesar 60% dan porsinya cenderung meningkat dibandingkan pada November 2024 sebesar 59%, dengan bank digital cenderung mendominasi pendanaan,” ungkap Dian kepada wartawan, dikutip pada Minggu (23/2/2025).

Dian menerangkan, maraknya fenomena fintech p2p lending yang bermasalah belum berdampak pada peningkatan NPL Bank secara signifikan. Secara keseluruhan, NPL gross di sektor perbankan pada Desember 2024 tercatat sebesar 2,08% atau lebih rendah dari posisi akhir 2023 ayang yang sebesar 2,19%.

Sementara itu, tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) yang merefleksikan pinjaman bermasalah di fintech p2p lending berada di level 2,60% pada Desember 2024. Angka tersebut juga jauh lebih baik dari TWP90 posisi Desember 2023 yang sebesar 2,93%.

Imbauan dari OJK

Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 32 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 56 menit yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia