Senin, 24 Maret 2025

Layanan BNPL dan Pindar Diprediksi Terkerek Kebutuhan Lebaran

Penulis : Prisma Ardianto
7 Mar 2025 | 19:34 WIB
BAGIKAN
Aplikasi pinjaman bayar nanti (paylater) atau buy now lay later (BNPL). (Antara/Yulius Satria Wijaya)
Aplikasi pinjaman bayar nanti (paylater) atau buy now lay later (BNPL). (Antara/Yulius Satria Wijaya)

JAKARTA, investor.id – Pembiayaan buy now pay later (BNPL) oleh multifinance dan pinjaman daring (pindar) dari fintech p2p lending diprediksi meningkat jelang lebaran Idulfitri 1446 Hijriah pada tahun 2025.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK, Agusman menyampaikan, menjelang lebaran tahun lalu pada April 2024, outstanding pembiayaan BNPL oleh multifinance menguat sebesar 31,45% year on year (yoy). Angka itu lebih tinggi dari bulan sebelumnya atau pada Maret 2024, dengan pertumbuhan BNPL sebesar 23,90% yoy.

Sementara di sisi layanan pindar, fintech p2p lending mencatatkan nilai pinjaman tumbuh menguat sebesar 24,16% yoy per April 2024. Perkembangannya pun lebih tinggi dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 21,85% yoy.

Advertisement

“Dengan melihat trend tersebut, diperkirakan juga terjadi peningkatan permintaan pembiayaan BNPL oleh PP dan Pindar menjelang lebaran tahun ini, namun diharapkan akan lebih terkendali agar tidak menimbulkan peningkatan NPF ke depan,” ujr Agusman kepada wartawan, pada Jumat (7/3/2025).

Dia juga percaya bahwa pertumbuhan layanan BNPL dan pindar akan didukung dengan kualitas pembiayaan bermasalah dalam rentang stabil dan terkendali. Adapun demand pinjaman dipengaruhi masih tingginya transaksi digital masyarakat di produk-produk e-commerce di masa Ramadan dan Lebaran.

Data terkini OJK mencatat, pembiayaan BNPL oleh multifinance pada Januari 2025 meningkat sebesar 41,9% yoy menjadi Rp 7,12 triliun. Pertumbuhanya juga lebih tinggi dari Desember 2024 yang naik sebesar 37,6% yoy. Secara kualitas, NPF gross BNPL sebesar 3,37%.

Sementara pinjaman daring oleh fintech p2p lending pada Januari 2025 tumbuh 29,94% yoy dengan nominal sebesar Rp 78,50 triliun. Pertumbhanya juga sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 29,14% yoy. Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) dalam kondisi terjaga stabil di posisi 2,52%.

Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 32 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 56 menit yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia