Senin, 24 Maret 2025

Ekonomi Lesu, LPEM FEB UI Salahkan Pemerintah

Penulis : Vinnilya Huanggrio
19 Mar 2025 | 16:57 WIB
BAGIKAN
Sejumlah pekerja berjalan saat jam pulang kerja di kawasan Terowongan Kendal, Jakarta, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Sejumlah pekerja berjalan saat jam pulang kerja di kawasan Terowongan Kendal, Jakarta, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyebut lesunya ekonomi Indonesia belakangan ini disebabkan kurangnya mitigasi pemerintah dalam menghadapi berbagai perubahan global dan domestik.

“Banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi di awal tahun yang kurang dimitigasi oleh pemerintah,” ujar Kepala LPEM FEB UI, Chaikal Nuryakin dalam Investor Daily Talk, Rabu (19/3/2025).

Sejumlah faktor seperti perlambatan ekonomi global, ketidakpastian geopolitik, hingga kebijakan moneter ketat di negara maju telah memberikan tekanan terhadap perekonomian nasional.

Advertisement

Chaikal menyoroti kondisi ini diperparah oleh perubahan-perubahan yang terjadi dari dalam negeri sendiri, baik dari sisi anggaran fiskal maupun kebijakan-kebijakan sejumlah kementerian yang ukurannya begitu besar. Hal-hal tersebut yang kemudian menambah ketidakpastian dan membuat ekonomi jadi lesu.

“Ketidakpastian eksternal ditambah ketidakpastian internal, itu menjadikan ekspektasi dari pelaku ekonomi tidak begitu clear, terutama dalam mengambil keputusan investasi,” jelasnya.

Menurut Chaikal, pelemahan ekonomi Tanah Air ini tidak terjadi secara mendadak. Berdasarkan laporan Economic Outlook LPEM dari tahun 2023 hingga 2024, telah terjadi tekanan terhadap kelas menengah, baik dari segi jumlah dan daya beli.

Ditelisik lebih jauh, selain kurangnya sikap preventif pemerintah kepada perubahan-perubahan yang ada, indikator lain yang menyebabkan lesunya ekonomi Indonesia ialah penurunan daya beli yang tercermin dari pergerakan inflasi inti.

“Jika kita bandingkan 2022 dan 2024, terlihat bahwa meskipun inflasi inti pada 2024 lebih rendah, hal ini bukan karena daya beli yang membaik, melainkan karena adanya kenaikan harga emas yang cukup signifikan,” beber dia.

Chaikal menerangkan kenaikan harga emas ini berfungsi sebagai penahan agar inflasi inti tidak turun lebih dalam. Namun, jika kita mengecualikan komponen emas, daya beli masyarakat sebenarnya mengalami pelemahan.

Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Butuh Stimulus Tambahan

Pasar saham membutuhkan tambahan stimulus demi menangkis efek negatif global
Market 11 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Terkerek Ringan

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam hari ini terkerek ringan. Cek juga harga buyback emas Antam.
Market 12 menit yang lalu

Ada yang Ketok Dividen Hari Ini, Biasanya Gede

Salah satu saham yang menarik untuk dikoleksi adalah saham BRI (BBRI). BBRI sendiri menggelar RUPST hari ini.
Market 33 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 1 jam yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia