Senin, 24 Maret 2025

THR Akan Mendorong Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga

Penulis : Imam Suhartadi
13 Mar 2025 | 22:52 WIB
BAGIKAN
Ilustrrasi tunjangan Hari Raya (THR). (Foto: Roojai)
Ilustrrasi tunjangan Hari Raya (THR). (Foto: Roojai)

JAKARTA, investor.id - Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2025 yang mengatur kebijakan pemberian dan gaji ke-13 untuk ASN.

Kementerian Keuangan mengalokasikan anggaran senilai Rp49,4 triliun untuk Tunjangan Hari Raya (THR) ASN 2025, dengan rincian Rp17,7 triliun untuk ASN pusat, pejabat negara, prajurit TNI, dan anggota Polri; Rp12,4 triliun untuk pensiunan dan penerima pensiun; dan Rp19,3 triliun untuk ASN daerah.

Peneliti dari Next Policy, Shofie Azzahrah menilai THR memiliki potensi untuk mendorong konsumsi rumah tangga. Dengan meningkatnya daya beli masyarakat menjelang Lebaran, sektor-sektor seperti ritel, makanan dan minuman, transportasi, pariwisata, serta e-commerce akan mengalami lonjakan permintaan.

Advertisement

Namun, efektivitasnya dalam mengungkit ekonomi akan bergantung pada bagaimana THR ini dibelanjakan.

“Jika sebagian besar dana ini mengalir ke produk dalam negeri dan sektor riil, maka dampaknya akan lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Sebaliknya, jika lebih banyak digunakan untuk pembelian barang impor atau disimpan dalam bentuk tabungan, maka dampak langsungnya terhadap pertumbuhan ekonomi akan lebih terbatas,” kata Shofie kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (12/3/2025).

Dia menyarankan agar dampaknya terasa maksimal terhadap perekonomian maka pemerintah perlu mendorong masyarakat untuk membelanjakan Tunjangan Hari Raya (THR) mereka di sektor-sektor yang memiliki efek berganda tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi, seperti Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta industri lokal.

“Konsumsi di sektor ini akan membantu meningkatkan perputaran uang di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya tahan ekonomi domestik,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah dapat memberikan insentif pajak bagi UMKM dan industri lokal selama periode Lebaran untuk meningkatkan daya saing produk dalam negeri dan mendorong masyarakat lebih banyak berbelanja di sektor domestik.

Tantangan Pengelolaan THR

Meskipun THR memiliki potensi besar untuk menjadi stimulus ekonomi, Shofie mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi.

Salah satunya adalah kemungkinan lonjakan inflasi akibat meningkatnya permintaan barang dan jasa dalam waktu singkat.

“Jika tidak dikelola dengan baik, kenaikan harga ini dapat mengurangi daya beli masyarakat dan membuat efek positif dari THR menjadi kurang optimal,” jelasnya.

Selain itu, kecenderungan masyarakat untuk membeli barang-barang impor yang harganya lebih murah juga bisa menjadi kendala, karena dana yang seharusnya beredar di dalam negeri malah mengalir ke luar negeri, mengurangi dampak ekonominya bagi sektor domestik.

“Pemerintah juga perlu memproteksi beberapa komoditas yang punya efek pengganda tinggi bagi perekonomian, agar masyarakat lebih banyak membeli produk dalam negeri pada kondisi ini,” imbuhnya.

Dia berpendapat pemerintah perlu mengembangkan berbagai kebijakan yang bisa mengarahkan konsumsi ke sektor yang lebih produktif, salah satunya melalui berbagai insentif ke industri lokal agar bisa menumbuhkan geliat perekonomian.

Saat ini, pemerintah telah mengimbau perusahaan aplikator untuk memberikan Bonus Hari Raya (BHR) sebesar 20% dari pendapatan bersih bulanan selama 12 bulan terakhir kepada para pengemudi ojek digital.

Namun, hal ini tentu tidak mudah bagi aplikator karena beban finansial tambahan yang harus ditanggung perusahaan, terutama bagi yang belum memiliki margin keuntungan besar.

Untuk bonus THR bagi para pekerja informal, lanjut dia, pemerintah bisa melakukan skema insentif fiskal atau subsidi langsung tanpa harus membebani perusahaan.

Salah satu opsinya adalah melalui bantuan sosial tunai (BST) khusus bagi pekerja informal, yang dapat diberikan dengan skema berbasis data pekerja informal yang sudah terdaftar di sistem Jaminan Sosial Ketenagakerjaan atau melalui sistem digital berbasis e-wallet.

“Selain itu, pemerintah juga bisa menawarkan insentif pajak atau potongan biaya operasional bagi perusahaan aplikator yang bersedia memberikan BHR kepada mitra mereka, sehingga tetap mendorong kesejahteraan pekerja tanpa menciptakan tekanan keuangan berlebihan bagi perusahaan,” pungkasnya.

Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 22 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 51 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 2 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia