Hari Perempuan Internasional, Perempuan Masih Kekurangan Nutrisi

JAKARTA, investor.id – Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap 8 Maret. Mirisnya, perempuan, khususnya di Indonesia masih kekurangan nutrisi, terutama ibu hamil. Kondisi ini berbahaya karena dapat menciptakan generasi stunting.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, dr Maria Endang Sumiwi, MPH. mengatakan, ada dua goals SDGs (Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), yaitu kesehatan dan kesetaraan gender.
“Goals-nya, perempuan sehat fisik, sehat jiwa, dan sehat sosial. Kita lihat, semakin tinggi akses perempuan pada haknya, termasuk kesehatan, semakin sehat perempuan. Sayangnya, perempuan masih mengalami kekurangan nutrisi, terutama ibu hamil,” kata dr Maria Endang pada peringatan Hari Perempuan Internasional 2025, bertema ‘Perempuan Sehat dan Berdaya, Menuju Kesetaraan Global’ yang digelar Farid Nila Moeloek (FNM) Society bersama United Nations Population Fund (UNFPA) dan didukung Takeda, di Jakarta.
dr Maria memaparkan, kejadian anemia pada ibu hamil masih tinggi. “Saat ini anemia pada ibu hamil mencapai 27,7%, 5 tahun lalu bahkan 48%. Harusnya gak boleh lebih dari 20%,” tegas dr Maria.
Anemia disebabkan karena kekurangan zat besi. Sumber zat besi bisa didapat dari daging merah, hati, ikan, sayuran hijau seperti bayam, dan kacang-kacangan. Pada ibu hamil, anemia dapat melahirkan generasi stunting dengan kemampuan kognitif rendah.
Salah satu faktor anemia, kata dr Maria adalah angka pernikahan usia muda. “Ada 34% perempuan berstatus menikah yang menikah di usia di bawah 18 tahun,” ungkap dr Maria. A
Mirisnya, ada 7% perempuan berusia 15-19 tahun sudah menjadi ibu. Angka kematian ibu (AKI) juga tinggi, 17 ribu kematian ibu per tahun dan Angka Kematian Bayi 104 ribu. Angka kematian ini bisa diturunkan dengan meningkatkan akses ke kesehatan reproduksi.
Selain kekurangan nutrisi, perempuan Indonesia juga berisiko tertular penyakit infeksi, seperti HIV. “Banyak perempuan tertular HIV dari suaminya,” kata dr Maria.
Perempuan, lanjut dr Maria, juga berisiko menderita penyakit kanker dan penyakit degenerative, seperti diabetes, jantung, stroke.
Masalah kesehatan jiwa juga mengancam perempuan. Perempuan mengalami masalah kesehatan jiwa lebih tinggi dibanding laki-laki dalam satu bulan terakhir. “Yang bunuh diri juga lebih banyak perempuan,” kata dr Maria.
“Ini jadi PR (pekerjaan rumah) kami supaya hak kesehatan perempuan bisa kita penuhi bersama,” janji dr Maria.
Pola Pengasuhan
Untuk mencapai status kesehatan yang baik, dr Maria meminta, masyarakat Indonesia, keluarga, menerapkan pola pengasuhan yang baik pada anak. Pola pengasuhan yang baik itu dimulai dari sebelum anak dilahirkan.
”Jadi, dari sebelum lahir, anak harus diinginkan. Setelah lahir, harus dapat pengasuhan yang positif supaya tumbuh dan berkembang optimal. Tidak ada kekerasan dalam pengasuhan akibat orang tua yang stres. Karena itu, orang tua harus bisa mengatasi stresnya,” ujar dr Maria.
Baca Juga:
Teknologi Nuklir untuk Dunia KesehatanGDI Rendah
Ketua FNM Society, Prof Dr dr Nila Moeloek, SpM(K), mengungkapkan, berdasarkan data global, pencapaian Gender Development Index (GDI) Indonesia berada di angka 0,94 dari skala 0 sampai 1, atau masih berada di bawah standar global. Rendahnya GDI ini berkontribusi pada rendahnya status kesehatan perempuan.
“Kesenjangan gender masih menjadi tantangan. Karena itu, bagaimana memastikan setiap perempuan, di mana pun mereka berada, memiliki akses yang sama terhadap kesempatan, kesehatan, dan perlindungan,” kata Prof Nila yang berharap semua pihak bersama-sama meningkatkan GDI.
Di pihak swasta, akses yang sama ini sudah dterapkan oleh Takeda. “Kami bangga bahwa 53% dari Global Leadership Team kami adalah perempuan, dan di Indonesia, lebih dari 60% kepemimpinan kami dipegang oleh perempuan. Namun, komitmen kami tidak berhenti di internal perusahaan. Kami percaya bahwa akses kesehatan yang berkelanjutan harus menjadi hak semua orang, dan itulah mengapa kami aktif dalam berbagai area terapi, termasuk onkologi, penyakit langka, penyakit gastrointestinal, kesehatan konsumen, dan dengue,” kata Corporate Strategy Officer & CEO Chief of Staff, Takeda Pharmaceuticals, Akiko Amakawa.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV