Teknologi AI Bisa Dimanfaatkan untuk Deteksi dan Pengobatan Stunting hingga Tuberkulosis yang Tepat

JAKARTA, investor.id – Pemanfaat teknologi AI ((Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) pada kesehatan sangat luas. Salah satunya untuk mendeteksi stunting hingga penyakit tuberculosis (TB), bakteri penyebabnya, dan pengobatan yang tepat.
“Setiaji, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan/Chief Digital Transformation Office (DTO) Kementerian Kesehatan, menegaskan pentingnya AI dalam pembangunan data kesehatan nasional. Hal ini guna menciptakan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan berkualitas.
“Visi Pemerintah adalah data kesehatan digital terintegrasi dan dilindungi. AI di bidang kesehatan saat ini mirip seperti perbankan 30 tahun lalu. Bagaimana perbankan mendigitalkan data 30 tahun lalu, ini yang dilakukan Kementerian Kesehatan saat ini. Data kesehatan setiap masyarakat ditangkap dari sejak awal, bahkan saat masih di kandungan. Ini karena masih tingginya kasus stunting di Indonesia,” terang Setiaji dalam diskusi Dentons HPRP Law & Regulations Outlook 2025: Masa Depan Sektor Strategis di Pemerintahan Baru, Zonasi Lahan Data Center dan Terobosan AI di Sektor Kesehatan di Jakarta, baru-baru ini.
Lebih lanjut, Setiadi memaparkan, berbaga penerapan AI di bidang kesehatan. “Penerapan AI banyak sekali. Selain untuk analisis dan prediksi stunting, juga hipertensi, mental health, dan sebagainya. Itu semua bisa digunakan AI. Yang paling penting mana yang mau diprioritaskan dulu, itu yang kita selesaikan. Saat ini kita masih punya isu beberapa penyakit seperti kanker, TBC, dan penyakit katastropik seperti hipertensi, gula, dan sebagainya, itu yang kita fokuskan,” ujar Setiadi.
Prinsipnya, kata Setiadi, penggunaan AI digunakan berdasarkan pada tiga hal. “Pertama, ini base on nya yang mana, apakah dari hasil image, misal pemeriksaan radiologinya atau ronsen untuk deteksi penyakit-penyakit, seperti penyakit paru atau kanker, atau kedua, bisa berbasis genomic-nya, misal untuk mendeteksi tuberculosis sesuai jenis bakterinya sehingga dilakukan pengobatan yang tepat. Dan ketiga, base on CCPT misal dari hasil konsultasi dokter,” papar Setiadi.
CCPT adalah Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi. CPPT merupakan dokumentasi perkembangan pasien yang dilakukan oleh tenaga medis. CPPT berisi informasi tentang kondisi pasien, pengobatan, dan tindakan yang diterima pasien.
Saat ini, kata Setiaji, penerapan AI sudah dilakukan uji coba di beberpa rumah sakit. “D RS Adam Malik misal untuk deteksi paru paru menggunakan radiologi. Di RS PON misal untuk mendeteksi penyakit otak. Di Dharmais untuk deteksi kanker menggunakan patologi. Juga ada beberapa rumah sakit dan universitas untuk deteksi kanker serviks,” ungkap Setiadi.
Ke depan, lanjut Setiadi, AI akan menjawab isu-isu ketahan kesehatan nasional. “Masyarakat Indonesia kan hidup tersebar di banyak tempat, sedangkan dokter dan ahli radologi terbatas, sehingga nanti diagnosis awal dibantu dengan AI sehingga bisa mempercepat analisis penyakit, memastikan pengobatan yang tepat. Jadi intinya AI untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia,” tandas Setiadi.
CE Halodoc Jonathan Sudharta, mengulas bagaimana AI tidak hanya membuka peluang besar dalam layanan kesehatan, namun juga menghadapi tantangan dalam penerapannya, terutama dalam regulasi.
Di sisi lain, dia mengapresiasi pola perubahan dan kecepatan Kementerian Kesehatan RI dalam mengadopsi teknologi AI. “Kementerian Kesehatan sangat terbuka dan mengedepankan inovasi, bukan dari inovator, tetapi dari Pemerintah. Saya sangat menghargai ini,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Jonathan Natakusuma, CEO Eden Sehat AI mengungkapkan efektivitas AI dalam mendeteksi penyakit. “Termasuk pembuatan laporan radiologi kanker yang lebih cepat dan akurat, di mana dia memastikan perusahaaannya akan menjaga data pasien sesuai dengan standar yang ada,” ujar Jonathan.
Tantangan AI untuk Kesehatan
Sementara itu, Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan, Okto Irianto mengatakan, untuk merespons cepatnya perkembangan teknologi AI dan kebutuhan data center, Pemerintahan berkomitmen untuk segera menetapkan zonasi lahan data center di Indonesia. Zonasi data center diyakini akan dapat memaksimalkan potensi manfaat teknologi informasi di berbagai industri.
Negara, menurutnya, harus dapat menyediakan regulasi yang dibutuhkan oleh semua pihak dalam perkembangan data center dan teknologi AI (kecerdasan buatan), sehingga Indonesia dapat mengoptimalkan peluang data center dan teknologi AI bagi kesejahteraan masyarakat dan membantu mengejar target pertumbuhan ekonomi.
“Pembangunan data center dan AI akan berhasil jika dilakukan zonasi, teman-teman dari Kementerian Kementerian Agraria dan Tata Ruang harus melakukan zonasi dan mencari ruang ideal untuk data center,” jelas Okto Irianto.
Nashatra Prita, Partner Dentons HPRP, menyoroti pentingnya regulasi yang adaptif agar AI dapat berkembang tanpa menghambat inovasi bisnis. Menurutnya, penyedia jasa adalah pihak yang menerima manfaat dari pasien, sehingga harus mendapatkan persetujuan dari pasien untuk melakukan transfer data. “Gap inilah yang perlu diisi dan diatur oleh regulasi,” tegas Nashatra.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV