Satu Juta Anak Akan Diskrining Cegah Stunting

JAKARTA, investor.id – Sebanyak satu juta anak akan dilakukan skrining untuk mencegah dan mendeteksi stunting. Anak yang terdeteksi, selanjutnya akan dirujuk ke dokter anak untuk dilakukan intervensi dan penanganan yang tepat.
“Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak signifikan pada pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak, sehingga bisa mempengaruhi kemampuan mental dan belajar anak di sekolah,” jelas Dokter Spesialis Anak dr Novitria Dwinanda, SpA(K) saat peluncuran program Aksi ‘3 Langkah MAJU (3LM)’ di Jakarta, Kamis (23/1/2025).
Permasalahan stunting tidaklah berdiri sendiri, bukan hanya terkait dengan masalah ekonomi. Baik anak dari keluarga yang mampu maupun tidak mampu secara ekonomi dapat beresiko mengalami stunting. Sebab, lingkungan terdekat anak merupakan faktor yang turut memberi pengaruh besar pada persoalan stunting di Indonesia.
dr Novita memaparkan, terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan stunting. Antara lain, rendahnya pemahaman orangtua tentang stunting sehingga kurang memperhatikan asupan Bunda selama kehamilan dan asupan anak seperti kecukupan ASI dan praktik pemberian makan pendamping (MPASI) yang tidak tepat.
Selain itu rendahnya pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin karena kesadaran masyarakat dan terbatasnya akses ke fasilitas kesehatan.
“Masih banyak orang tua di Indonesia sulit menerima kenyataan atau malu jika anaknya terdiagnosa stunting dan cenderung menyangkal diagnosis dan menolak untuk dirujuk ke Rumah Sakit agar mendapat penanganan komprehensif,” ungkap dr Novita.
Oleh karena itu, tegas dr Novita, penanganan anak dengan risiko stunting adalah dengan intervensi keluarga dan lingkungan terdekat anak, serta dibarengi dengan peningkatan pemahaman tentang pemantauan pertumbuhan, pemberian nutrisi tepat, dan pemahaman diagnosis stunting sendiri.
“Hal ini merupakan salah satu upaya faktor risiko penurunan angka stunting di Indonesia,” tegas dr Novita.
Tiga Langkah
Salah satu strategi mencegah stunting adalah dengan melakukan skrining pada bayi di bawah usia satu tahun. Hal ini yang akan dilakukan oleh PT Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) bekerja sama dengan Alodokter.
“Tahun lalu kami melakukan 100 ribu skrining pada anak-anak bekerja sama dengan beberapa dinkes. Tahun 2025 kami menargetkan satu juta skrining. Kalau bisa kami temukan anak sebelum stunting terjadi supaya bisa dirujuk ke dokter anak untuk ditangani,” ujar Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director, Danone SN Indonesia, Angelia Susanto.
Proses skrining dilakukan dengan melakukan pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) anak. “Kami lakukan dengan tiga langkah maju, yaitu mengukur berat badan dan tinggi badan, mengajak anak ke dokter anak untuk ditangani dengan tepat, dan upayakan dengan pemberian nutrisi yang tepat,” papar Angelia.
Co-Founder & President Director of Alodokter Group Suci Arumsari mengatakan, hasil skrining nantinya bisa dikonsultasikan kepada dokter anak untuk penanganan yang tepat. “Kami menyediakan 1.000 chat gratis ke dokter anak untuk masyarakat Indonesia,” ujar Suci.
Soal skrining, dr Novita mengatakan, skrining dan rujukan sangat penting dalam mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS). Sebab, skrining dini menjadi kunci dalam deteksi awal sehingga intervensi cepat dapat dilakukan. “Skrining efektif mencakup pengukuran tinggi, berat badan, dan penilaian status gizi untuk memastikan anak tumbuh sesuai standar. Sehingga, deteksi dini memungkinkan penanganan tepat, mengurangi risiko komplikasi, dan memastikan anak mendapatkan perawatan optimal,” ujar dr Novita.
Sedangkan rujukan terapi stunting memastikan anak menerima intervensi yang tepat, seperti suplementasi gizi, perubahan pola makan, dan pemantauan intensif. Melalui rujukan yang tepat, anak dapat mengakses sumber daya yang diperlukan untuk memperbaiki status gizi dan mencegah dampak jangka panjang stunting. Oleh karena itu, keterlibatan berbagai pihak dalam proses ini, mulai dari tenaga kesehatan hingga keluarga, akan sangat berkontribusi pada upaya mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS),” tambah dr. Novitria.
Untuk diketahui, stunting masih menjadi tantangan kesehatan yang dihadapi anak Indonesia. Sebanyak 21,6% atau sekitar 1 dari 5 anak di Indonesia masih mengalami stunting. Padahal, stunting bisa menjadi salah satu permasalahan yang dapat menghambat tumbuh kembang dan potensi optimal anak-anak sebagai penerus generasi bangsa Indonesia, sehingga dapat menghambat terwujudnya generasi emas 2045.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV