Trump Mau Jadi Sahabat karena Tak Ingin Rusia dan China Mendekat

WASHINGTON, investor.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ingin jadi sahabat karena tak ingin Rusia dan China mendekat. Trump menyatakan kehati-hatian atas hubungan yang lebih dekat antara kedua negara bertetangga itu.
Presiden Trump menguraikan rencana untuk meningkatkan hubungan dengan dua negara yang telah bersatu dalam menentang AS di panggung dunia.
"Sebagai seorang mahasiswa sejarah yang saya pelajari, dan saya telah menyaksikan semuanya, hal pertama yang Anda pelajari adalah Anda tidak ingin Rusia dan China bersatu," tutur pemimpin AS itu kepada Fox News seperti dikutip Bloomberg, Kamis (20/3/2025). Komentar ini disampaikan Trump tak lama setelah ia menyelesaikan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin yang gagal mengamankan gencatan senjata selama 30 hari di Ukraina.
Pemimpin Republik itu meragukan dasar hubungan bilateral Rusia dan China, dengan mengatakan itu tidak alami. "Mereka mungkin bersahabat sekarang, tetapi kami akan bersahabat dengan keduanya," imbuhnya.
Dukungan Trump terhadap Rusia telah dilihat oleh beberapa analis sebagai upaya untuk memisahkan Rusia dari China. Ini disebut "Nixon terbalik" (Reverse Nixon), merujuk pada upaya Amerika di era Perang Dingin untuk memecah belah kedua kekuatan itu.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio menepis anggapan itu bulan lalu. Pihaknya memperingatkan, meskipun AS ingin menghentikan Rusia menjadi mitra junior China, namun berselisih dengan negara-negara tetangga yang bersenjata nuklir akan berdampak buruk bagi stabilitas global, kata Rubio.
Presiden China Xi Jinping mendeklarasikan persahabatan tanpa batas dengan Putin beberapa hari sebelum invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Sejak itu, akses ke pasar China telah memberi Rusia jalur hidup ekonomi karena sanksi yang dipimpin AS membuatnya terisolasi.
Pemerintah China memuji Rusia karena mengadakan pembicaraan dengan AS untuk mengakhiri perang. Pihaknya menyebut setiap upaya untuk menabur perselisihan telah ditakdirkan untuk gagal.
Ketika hubungan Rusia menghangat dengan China kembali ke era Barack Obama, Trump mengatakan kedua negara dipaksa bersama melalui "kebijakan energi yang buruk" tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Pemimpin AS tersebut berpendapat negara-negara seperti China diberi keuntungan yang tidak adil dengan dibiarkan menggunakan tenaga batu bara, karena pemerintahan AS sebelumnya mendorong agenda energi bersih.
Meskipun Trump telah berbicara langsung dengan Putin sejak berkuasa, ia masih belum mengadakan pembicaraan dengan pemimpin China. Padahal, pemerintah AS telah dua kali menaikkan tarif pada ekonomi nomor dua di dunia.
"China sangat membutuhkan kita dalam hal perdagangan, tetapi kita harus mengatasi defisit. Dan dengan Rusia, mereka ingin memiliki sebagian kekuatan ekonomi kita," ucap Trump.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV