Senin, 24 Maret 2025

Didominasi Gen Z, Rupiah Cepat Telah Salurkan Dana Rp29,3 Triliun

Penulis : Mardiana Makmun
22 Mar 2025 | 15:52 WIB
BAGIKAN
Direktur PT Kredit Utama FIntech Indonesia (Rupiah Cepat) Anna Maria Chosani (kiri), Direktur Utama PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), N. Balandina T. Siburian (2 kiri), dan Deputi Direktur Perencanaan, Pengembangan, dan Edukasi Keuangan (OJK) Evaluasi Literasi, Naomi Triyuliani (tengah) berfoto usai memaparkan inovasi dan adaptasi masa depan keuangan digital di Indonesia, di Jakarta.
Direktur PT Kredit Utama FIntech Indonesia (Rupiah Cepat) Anna Maria Chosani (kiri), Direktur Utama PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), N. Balandina T. Siburian (2 kiri), dan Deputi Direktur Perencanaan, Pengembangan, dan Edukasi Keuangan (OJK) Evaluasi Literasi, Naomi Triyuliani (tengah) berfoto usai memaparkan inovasi dan adaptasi masa depan keuangan digital di Indonesia, di Jakarta.

JAKARTA, investor.id – Rupiah Cepat telah menyalurkan dana pinjaman sebesar Rp29,3 trilun sejak tujuh tahun berdiri. Pinjaman terbanyak didominasi Gen Z dan milenial.

“Rupiah Cepat komitmen mendukung industri keuangan nasional, dengan memberikan solusi keuangan bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat yang belum terjangkau dengan layanan keuangan konvensional. Sejak awal berdiri sampai saat ini, Rupiah Cepat telah menyalurkan dana sekitar Rp29,3 triliun kepada 6,2 juta penerima dana berasal dari sekitar 1.923 lender yan didominasi Gen Z dan milenial. Dan tentunya jumlah ini, kita optimis, akan terus meningkat secara kuantitas maupun kualitas,” kata Direktur Utama PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), N. Balandina T. Siburian dalam keterangan tertulis.

Namun di tengah-tengah pencapaian tersebut, Rupiah Cepat juga menghadapi berbagai tantangan. “Salah satunya kredit macet yang didominasi Gen Z dan milenial karena budaya konsumtif yang tidak dibarengi dengan pengetahuan pengelolaan keuangan,” Balandina mengungkapkan.

Karena itu, kata Balandina, Rupiah Cepat terus melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola keuangan.

Advertisement

Selain itu, perkembangan teknologi digital saat ini juga menimbulkan permasalahan berupa fraud digital seperti manipulasi data. “Untuk itu, Rupiah Cepat berkomitmen untuk terus meningkatkan dan menjaga keamanan data sebagaimana dilakukan melalui sertifikasi diantaranya dengan sistem manajemen keamanan informasi ISO 27001,” kata Balandina

Industri fintech, lanjut Balandina, juga menghadapi tantangan praktik-praktik yang tidak bertanggung jawab yang dapat merusak reputasi industri peer-to-peer lending.

“Kita ketahui ya, banyak permasalahan terjadi. Orang pinjam, tapi terjerat bunga yang tinggi, belum lagi cara-cara penagihan yang dianggap tidak manusiawi, dan itu merupakan masalah kita bersama. Dalam hal ini, Rupiah Cepat terus berupaya membuatkan tata kelola yang baik, manajemen risiko, dan kepatuhan melalui serangkaian SOP dan peraturan perusahaan yang kami buat yang tentunya sejalan dengan regulasi yang berlaku saat ini,” ujar Balandina.

Sementara itu, Deputi Direktur Perencanaan, Pengembangan, dan Edukasi Keuangan (OJK) Evaluasi Literasi, Naomi Triyuliani memaparkan, saat ini statistik perusahaan pinjaman daring (pinjaman online) atau yang berizin dari OJK ada 97 platform.

“Sebanyak 7 diantaranya melakukan kegiatan secara syariah. Kemudian per standing pendanaan itu Rp 77,02 triliun dengan jumlah pengguna aktif Rp 22,42 juta rekening,” ungkap Naomi.

Nah, dari data tersebut, sekitar 60,49% borower-nya atau pengguna aktif itu, didominasi oleh Gen Z dan Gen Y (milenial). “Itu makanya kita juga mulai melakukan aktif melakukan kegiatan literasi dan inklusif ke kelompok-kelompok ini karena mereka sudah lebih dari separuh pengguna aktif dari pinjaman daring ini,” ungkap Naomi.

Naomi memberikan kiat agar tidak terjerat pada perusahaan pinjaman online illegal, yaitu perhatikan 2L, Legal dan Logis.

“Kedepankan 2L,  Legal dan Logis. Jadi, sebelum memutuskan menggunakan satu layanan jasa keuangan, pastikan itu adalah legal. Siapa yang memberikan izin dan memiliki izin dari otoritas berwenang, termasuk izin untuk produk atau layanan yang akan dilakukan,” kata Naomi.

Kedua adalah logis. “Jadi, biasanya banyak skema-skema penipuan itu mereka memberikan suku bunga yang kadang jauh melebihi suku bunga yang tak wajar. Contohnya misalnya 20% sebulan, 30% sebulan. Itu sudah pasti adalah penipuan. Karena tidak mungkin satu investasi itu bisa sebegitu besar memberikan hasil dalam waktu yang singkat. Jadi, itu  diutamakan, legal dan logis,” tandas Naomi.

Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 32 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 56 menit yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia