Senin, 24 Maret 2025

Teknologi DeepSeek Akan Picu Gelombang Inovasi AI 

Penulis : Imam Suhartadi
22 Mar 2025 | 14:28 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi pemakaian teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI). (Foto: ANTARA/Freepik/am)
Ilustrasi pemakaian teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI). (Foto: ANTARA/Freepik/am)

JAKARTA, investor.id - Hadirnya DeepSeek, sebuah model bahasa besar (LLM) berbasis open source dari Tiongkok telah mengguncang dunia.

Dengan besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia, mencapai 185,3 juta pengguna atau 66,5 persen dari populasi, Indonesia memiliki potensi yang signifikan untuk memaksimalkan teknologi seperti DeepSeek.  

Mengomentari kehadiran DeepSeek, Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera, mengatakan keberadaan DeepSeek diperkirakan akan mendorong pengembangan AI di Indonesia. DeepSeek, yang berbasis open source adalah contoh bagi industri teknologi lokal bahwa modal kecil tidak menjadi hambatan untuk pengembangan teknologi.

Advertisement

“Model seperti DeepSeek berpotensi memicu gelombang terobosan AI berikutnya, namun kekuatan sesungguhnya ada pada satu elemen penting, yaitu data,” kata Sherlie dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (22/3/2025).

Tanpa data tepercaya dan akurat, bahkan algoritma yang paling canggih sekalipun akan gagal. Sama seperti fondasi kuat yang menopang sebuah bangunan, data yang andal memungkinkan model AI menghasilkan prediksi yang diandalkan dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih cerdas.

Tanpa data yang andal atau tepercaya, model AI, tak peduli seberapa efisien penggunaan energinya, akan ambruk seperti rumah yang rapuh, dan tidak akan memberikan manfaat yang baik bagi bisnis. 

Sherlie menilai model open source yang inovatif dari DeepSeek menawarkan kebebasan luar biasa bagi para pengembang untuk berkolaborasi dan berinovasi, mendorong kemajuan yang pesat.

Di Indonesia,kata dia, pengembangan AI telah dilakukan di berbagai sektor seperti logistik, sumber daya manusia, pendidikan dan keamanan siber.

Meeting.ai, yang dikembangkan oleh startup lokal, bahkan telah mengintegrasikan teknologi open source DeepSeek untuk meningkatkan kualitas transkripsi mereka dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Di Cloudera, kami yakin bahwa masa depan AI terletak pada Private AI dan Open AI, di mana perusahaan bisa membangun, menjalankan, dan mengembangkan AI secara aman di lingkungan mereka sendiri, mempertahankan kendali penuh terhadap data mereka,” kata Sherlie. 

Keterbukaan AI (Openness in AI) - melalui format data terbuka dan interoperable framework - memastikan fleksibilitas dan mencegah keterikatan pada satu vendor (vendor lock-in).

“Hal ini sejalan dengan akar open-source kami sendiri, dan kami mengetahui langsung value luar biasa dari open source, open standard, dan open market, sebagai katalisator untuk inovasi industri,” imbuh Sherlie lagi. 

Lebih lanjut Sherlie mengatakan bahwa satu teknik pelatihan AI tidak bisa diterapkan untuk semua orang. Baik itu pelatihan dari awal, seperti yang dilakukan DeepSeek untuk mendorong inovasi, atau menyempurnakan model yang sudah ada untuk penerapan yang lebih cepat, pilihannya tergantung pada kebutuhan organisasi. 

Reinforcement learning (RL) dan penyempurnaan (fine tuning) memainkan peranan yang saling melengkapi. Keseimbangan yang baik di antara keduanya adalah momen-momen di mana keajaiban terjadi. RL akan ‘tumbuh subur’ di lingkungan yang dinamis dan terus berkembang, sementara penyempurnaan (fine tuning) unggul dalam tugas-tugas yang tepat seperti mengikuti instruksi.

Pelatihan dari awal menghasilkan terobosan yang luar biasa, sementara distilling dan fine-tuning menawarkan agility dan efisiensi untuk penggunaan yang telah terdefinisikan dengan baik.

Setiap pendekatan memiliki kelebihannya sendiri, dan memilih strategi yang tepat adalah kunci untuk menyeimbangkan inovasi dengan penerapan yang praktis dan scalable. 

Strategi AI Cloudera bertujuan untuk memahami tuntutan organisasi yang beragam melalui platform hybrid dan multi-cloud yang sesungguhnya, sehingga perusahaan dapat membangun dan menerapkan beban AI dengan lancar di lingkungan on-prem (lokal), private cloud, dan public cloud.

Dengan mendukung format data terbuka seperti Apache Iceberg, Cloudera menghindari vendor lock-in, memberdayakan bisnis untuk memanfaatkan AI di mana pun data mereka berada sekaligus memastikan keamanan dan skalabilitas kelas enterprise


 

Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 33 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 57 menit yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia