Gen Z Doyan Paylater

JAKARTA, investor.id – Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok yang paling banyak memanfaatkan layanan pinjaman daring (pindar) dan paylater untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka.
Hasil survei terbaru dari Jakpat pada paruh kedua 2024 mengungkapkan bahwa dari 2.133 responden yang terdiri dari Gen Z (36%), Milenial (42%), dan Generasi X (22%), mayoritas Gen Z menggunakan layanan keuangan berbasis teknologi (financial technology atau fintech) untuk kebutuhan mendesak dan konsumtif.
Menurut survei tersebut, sebanyak 55% Gen Z pengguna layanan paylater memanfaatkannya untuk kebutuhan mendesak, diikuti oleh kebutuhan sehari-hari (32%) dan membayar tagihan (26%). Pola serupa juga terlihat dalam penggunaan pindar, di mana 62% Gen Z menggunakan pinjaman daring untuk kebutuhan mendesak, 42% untuk kebutuhan sehari-hari, dan 35% untuk membayar tagihan.
Survei terpisah yang dilakukan oleh Inventure dalam riset Indonesia Market Outlook 2025 pada September 2024 juga mengungkapkan bahwa 34% Gen Z pernah mengakses pinjaman daring dalam enam bulan terakhir. Artinya, sekitar 1 dari 3 Gen Z telah memanfaatkan pindar, dengan alasan utama adalah untuk membeli barang konsumsi, seperti gadget premium.
Menanggapi fenomena ini, Presiden Direktur Akulaku Finance, Perry Barman Slangor menekankan pentingnya literasi keuangan di kalangan pengguna fintech, khususnya Gen Z. Menurutnya, pemahaman terhadap batas kemampuan finansial menjadi kunci dalam memanfaatkan layanan pinjaman daring maupun paylater secara bijak.
“Ya ini, kuncinya memang di literasi keuangan juga sih. Jadi kita memang melakukan itu juga,” ujar Perry saat ditemui di Shangri-La Hotel, Jakarta Pusat, pada Senin (17/3/2025).
Perry menjelaskan bahwa Akulaku telah berupaya memastikan pengguna memahami batas kemampuan finansial mereka sebelum menggunakan layanan buy now, pay later (BNPL). Ia menekankan pentingnya menggunakan BNPL untuk kebutuhan yang benar-benar diperlukan, bukan sekadar untuk memenuhi gaya hidup.
“Kita memastikan bahwa mereka tahu ini batas-batasan kalau misalnya mau memang engage dengan produk BNPL ini ya. Dan tentunya kita harapkan BNPL ini lebih dipakai buat kebutuhan,” jelas dia.
Sebagai contoh, Perry menyebutkan bahwa pembelian gadget seperti ponsel bisa menjadi kebutuhan konsumtif maupun produktif, tergantung pada tujuan penggunaannya.
“Misalnya kayak HP, HP itu kan bisa dianggap sebagai konsumtif, bisa juga produktif. Kita kerja pakai HP, ini bapak ibu pakai HP kan, nah gitu-gitu. Jadi lebih diharapkan memang buat kebutuhan,” tuturnya.
Perry berharap literasi keuangan yang lebih baik dapat mendorong Gen Z untuk menggunakan layanan pinjaman daring secara lebih bertanggung jawab dan produktif, sehingga manfaat dari layanan fintech dapat dirasakan secara optimal tanpa menimbulkan beban finansial di masa depan.
Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV