Mata Uang Pasar Berkembang Tampak Melemah Setelah Pernyataan The Fed

JAKARTA, investor.id – Indeks mata uang pasar berkembang tampak melemah setelah The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah. Bank sentral Amerika Serikat (AS) itu menunjukkan kekhawatiran atas prospek ekonomi AS dan ketidakpastian kebijakan.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu (Kamis pagi WIB) memberikan suara untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal (FFR) dalam kisaran 4,25%-4,5%, sesuai dengan ekspektasi investor seperti dikutip Bloomberg, Kamis (20/3/2025).
Namun ketidakpastian telah meningkat tentang sisa tahun ini. Para trader memperkirakan sekitar dua penurunan suku bunga seperempat poin atau 25 basis poin (bps) pada akhir 2025 untuk penutupan Selasa (18/3/2025), turun dari sekitar tiga minggu lalu.
Dalam pidato pasca keputusan tersebut, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan tarif AS dapat menunda kemajuan inflasi sementara risiko resesi telah naik meski tidak naik tinggi. Keputusan The Fed, ditambah pandangannya tentang prospek ekonomi AS, mendorong dolar AS untuk memangkas kenaikan sebelumnya.
Saham yang dilacak oleh MSCI EM Emerging Markets Index juga membukukan kerugian pada hari itu, mengakhiri tiga hari kemenangan beruntun.
Sentimen risiko seharusnya sedikit didukung oleh perlambatan Pengetatan Kuantitatif (QT), ucap Ning Sun selaku ahli strategi pasar berkembang senior di State Street Global Markets. Adapun QT adalah jenis pengetatan kebijakan moneter yang digunakan bank sentral untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dalam perekonomian.
“Tetapi pada akhirnya jika data konkret menunjukkan pertumbuhan akan melemah di AS, itu seharusnya tidak positif untuk pasar berkembang. Revisi pertumbuhan The Fed menjadi 1,7 cukup substansial hari ini," imbuhnya.
Mata uang dengan kinerja terburuk di pasar berkembang adalah lira Turki dan peso Kolombia, keduanya dilanda berita utama domestik yang negatif.
Di Turki, pihak berwenang menahan saingan paling terkemuka Presiden Recep Tayyip Erdogan, yaitu Ekrem Imamoglu, yang menyebabkan lira anjlok lebih dari 12% terhadap dolar sebelum memangkas kerugian.
Penangkapan Wali Kota Istanbul Imamoglu juga memicu penurunan indeks saham utama Turki di Istanbul dan membuat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah melonjak. "Ini sedikit mengejutkan sistem, trennya, setidaknya baru-baru ini, mengarah ke stabilitas yang lebih baik, baik secara ekonomi maupun politik," ujar kepala penelitian makro di Monex Europe Ltd Nick Rees.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV