FBI Tuduh Peretas Korut Curi Aset Kripto US$ 1,5 Miliar

WASHINGTON, investor.id – FBI menuduh peretas yang terkait dengan Korea Utara (Korut) melakukan salah satu pencurian mata uang kripto terbesar yang diketahui publik. Peretas Korut itu mencuri aset kripto dilakukan dengan menyita ethereum senilai sekitar US$ 1,5 miliar dari sebuah perusahaan yang berbasis di Dubai.
Pencurian awal bulan ini yang menargetkan Bybit, salah satu bursa kripto terbesar di dunia. Ini adalah pencurian lain yang melibatkan tim peretas yang diidentifikasi oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) dengan nama TraderTraitor dan Lazarus Group.
“(Para peretas mencuri mata uang kripto) melalui penyebaran aplikasi perdagangan mata uang kripto yang dimodifikasi untuk menyertakan malware yang memfasilitasi pencurian mata uang kripto,” ungkap FBI seperti dikutip Associated Press, Senin (3/3/2025).

Dalam pengumuman layanan publik daring pada pekan lalu, FBI mengatakan mereka yakin para peretas yang didukung Korut bertanggung jawab atas pencurian tersebut.
“Para pelaku TraderTraitor bertindak cepat dan telah mengubah beberapa aset yang dicuri menjadi Bitcoin dan aset virtual lainnya yang tersebar di ribuan alamat di beberapa blockchain. Diperkirakan aset-aset ini akan dicuci lebih lanjut dan akhirnya diubah menjadi mata uang fiat,” demikian tertulis dalam keterangan resminya, pekan lalu.
Media pemerintah Korut belum mengakui pencurian atau tuduhan FBI tersebut. Misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa belum menanggapi.
Namun, peretas Korut telah mencuri sekitar US$ 1,2 miliar dalam mata uang kripto dan aset virtual lainnya dalam lima tahun terakhir, menurut badan mata-mata Korea Selatan (Korsel).
Hal ini merupakan sumber mata uang asing yang langka dan sangat dibutuhkan untuk mendukung ekonominya yang rapuh dan mendanai program nuklirnya dalam menghadapi sanksi PBB yang ketat dan penutupan perbatasan yang ketat oleh Korut selama pandemi virus corona.
Panel ahli PBB secara terpisah mengatakan sedang menyelidiki 58 dugaan serangan siber oleh Korut antara 2017-2023. Aksi kriminal ini mengakibatkan sekitar US$ 3 miliar dicuri. "Dilaporkan (untuk) membantu mendanai pengembangan senjata pemusnah massal negara itu," demikian jelas panel ahli tersebut.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV