Warren Buffett Sebut Tarif Trump Bisa Picu Inflasi

OMAHA, investor.id – Investor legendaris Warren Buffett membuat komentar langka tentang kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia mengatakan, bea masuk yang menghukum dapat memicu inflasi dan merugikan konsumen.
"Tarif sebenarnya, kami sudah punya banyak pengalaman dengan tarif. Tarif merupakan tindakan perang, sampai taraf tertentu," kata Buffett, yang konglomeratnya Berkshire Hathaway memiliki bisnis besar di bidang asuransi, kereta api, manufaktur, energi, dan ritel seperti dikutip CBS internasional, Senin (3/3/2025).
Ia membuat pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara untuk sebuah film dokumenter baru tentang mendiang penerbit Washington Post, Katharine Graham.
"Seiring waktu, tarif menjadi pajak atas barang. Maksud saya, Peri Gigi tidak membayarnya! Lalu apa? Anda selalu harus menanyakan pertanyaan itu dalam ilmu ekonomi. Anda selalu berkata, ‘Lalu apa?" ujar Buffett sambil tertawa. Ia mengacu pada dogeng anak-anak tentang Peri Gigi, yang menukarkan gigi susu dengan koin uang.
Ini menandai pernyataan publik pertama dari “Oracle of Omaha” berusia 94 tahun itu tentang kebijakan perdagangan Trump. Pekan lalu, Trump mengumumkan tarif impor sebesar 25% dari Meksiko dan Kanada akan mulai berlaku pada Selasa (4/3/2025).
Sedangkan atas China akan dikenakan tarif tambahan sebesar 10% pada tanggal yang sama. Pemerintah China telah berjanji untuk membalas.
Selama masa jabatan pertama Trump, kepala dan CEO Berkshire Hathaway itu memberikan pendapat panjang lebar pada 2018 dan 2019 tentang konflik perdagangan yang meletus. Buffett memperingatkan tindakan agresif Partai Republik itu dapat menyebabkan konsekuensi negatif secara global.
Ketika ditanya tentang keadaan ekonomi terkini oleh CBS, Buffett menahan diri untuk tidak mengomentarinya secara langsung.
“Yah, saya pikir itu adalah topik yang paling menarik di dunia, tetapi saya tidak akan membicarakannya, saya tidak bisa membicarakannya. Saya benar-benar tidak bisa,” imbuhnya.
Buffett telah bersikap defensif selama setahun terakhir, saat ia dengan cepat menjual saham dan mengumpulkan sejumlah uang tunai yang memecahkan rekor.
Beberapa orang menganggap langkah konservatif Buffett sebagai seruan pesimis terhadap pasar dan ekonomi. Sementara itu, orang lain percaya ia tengah mempersiapkan konglomerat itu untuk penggantinya dengan memangkas posisi yang terlalu besar dan mengumpulkan uang tunai.
Volatilitas pasar telah meningkat akhir-akhir ini karena meningkatnya kekhawatiran tentang ekonomi yang melambat, perubahan kebijakan yang tidak dapat diprediksi dari Trump, serta valuasi saham secara keseluruhan. S&P 500 naik sekitar 1% sejak awal tahun.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV