Senin, 24 Maret 2025

Tarif AS Buka Peluang Relokasi Industri Kendaraan Listrik ke Indonesia

Penulis : Mardiana Makmun
5 Mar 2025 | 07:12 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi mobil listrik atau electric vehicle (EV). (Foto: ANTARA/HO)
Ilustrasi mobil listrik atau electric vehicle (EV). (Foto: ANTARA/HO)

JAKARTA, investor.id -- Kebijakan tarif tinggi yang diterapkan Amerika Serikat terhadap produk China membuka peluang besar bagi Indonesia dalam industri kendaraan listrik (EV). Namun, tantangan fiskal serta strategi penguatan rantai pasok nasional menjadi isu utama dalam pengembangan industri ini.

Dalam CORE Media Discussion (CMD) yang digelar oleh CORE Indonesia dan ENTREV para pakar industri membahas bagaimana kebijakan ekonomi global, khususnya langkah proteksionis yang diambil oleh Presiden AS Donald Trump, berdampak pada peta persaingan industri EV di Indonesia.

Direktur Riset Ekonomi Makro, Kebijakan Fiskal, dan Moneter CORE Indonesia, A. Akbar Susanto, menilai kebijakan tarif AS yang mencapai 60% terhadap produk China membuat produsen EV di Negeri Tirai Bambu mempertimbangkan relokasi industri mereka. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya mineral dan kebijakan pro-investasi, berpotensi menjadi salah satu tujuan utama.

"Indonesia sudah punya modal kuat dalam rantai pasok baterai EV dengan produksi nikel yang besar. Namun, tantangan fiskal akibat pemangkasan anggaran pemerintah di 2025 perlu dikelola agar insentif tetap bisa berjalan efektif," ujar Akbar dalam keterangan tertulis.

Advertisement

Selain isu tarif dan relokasi industri, pembahasan juga menyoroti tren pasar kendaraan listrik di Indonesia. Patia Jungjungan Maningdo, Pembina Industri Ahli Muda di Kementerian Perindustrian, mengungkapkan bahwa meskipun pemerintah telah memberikan berbagai insentif untuk kendaraan listrik murni (BEV), minat masyarakat masih cenderung lebih besar pada mobil hybrid.

Menurutnya, keterbatasan infrastruktur pengisian daya serta kekhawatiran pengguna terkait jarak tempuh masih menjadi faktor utama mengapa kendaraan hybrid lebih diminati dibandingkan EV murni.

"Konsumen Indonesia masih dalam tahap transisi. Banyak yang melihat hybrid sebagai solusi sementara sebelum benar-benar beralih ke EV murni. Ini perlu diperhatikan dalam strategi kebijakan jangka panjang," jelas Patia.

Sementara itu, Hanggoro Ananta Khrisna, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), menilai bahwa relokasi industri dari China ke Indonesia memang membuka peluang, tetapi ada tantangan dalam kesiapan ekosistem industri dalam negeri.

"Kalau kita ingin benar-benar menarik investasi manufaktur EV, kita harus pastikan bahwa ekosistemnya siap, termasuk rantai pasok lokal dan tenaga kerja yang kompeten. Jangan sampai kita hanya jadi tempat perakitan, bukan pusat produksi yang sesungguhnya," tegasnya.

National Project Manager ENTREV, Boyke Lakseru, menambahkan bahwa ada kebutuhan mendesak untuk menyeimbangkan antara insentif permintaan dengan penguatan kapasitas produksi lokal.

"Selama ini kebijakan lebih condong ke subsidi pembelian, padahal penguatan kapasitas produksi di dalam negeri juga harus didorong. Kalau hanya mengandalkan insentif tanpa membangun industri lokal, kita hanya jadi pasar, bukan pemain utama," ujar Boyke.

Menurutnya, ke depan, pemerintah harus berani merancang kebijakan yang tidak hanya menarik investor asing, tetapi juga mendorong tumbuhnya industri lokal yang berdaya saing tinggi.

Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 42 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia