Senin, 24 Maret 2025

Peneliti Ekonomi Beri Solusi agar Kenaikan Harga Pangan Jelang Ramadan Dapat Diredam

Penulis : Maria Gabrlelle
2 Mar 2025 | 14:45 WIB
BAGIKAN
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet. (Sumber: Tangkapan layar wawancara Yusuf Rendy Manilet/ Alfida Rizky)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet. (Sumber: Tangkapan layar wawancara Yusuf Rendy Manilet/ Alfida Rizky)

JAKARTA, investor.id – Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economic atau CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, fenomena kenaikan harga kebutuhan pokok atau kebutuhan pangan menjelang Ramadan. Hal yang terjadi setiap tahun ini, menurutnya karena kombinasi beberapa hal.

“Terus berulang akibat kombinasi peningkatan permintaan, gangguan pasokan, praktik monopoli, serta faktor psikologis pasar,” ujar Yusuf Rendy, Minggu (2/3/2025).

Adanya lonjakan konsumsi terhadap komoditas seperti cabai, bawang dan sayuran menjelang Ramadan dan Lebaran semakin diperparah oleh cuaca ekstrem. Sementara di sisi lain, praktik penimbunan oleh oknum menciptakan kelangkaan.

Advertisement

Guna mengatasi fenomena ini diperlukan langkah-langkah terpadu. Termasuk di dalamnya adalah peningkatan produksi pangan domestik. Hal ini penting dilakukan agar pasokan mencukupi lonjakan permintaan.

Langkah lainnya adalah efisiensi distribusi melalui penguatan infrastruktur pertanian atau koordinasi antar instansi. Diperlukan koordinasi dan kolaborasi kuat antara pemerintah dan pihak-pihak terkait.

“Terutama konsolidasi pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, karena kenaikan inflasi pangan akan cukup bervariasi antar daerah. Pemerintah secara umum perlu melihat secara regional bagaimana pergerakan inflasi pangan,” jelasnya.

Selain itu diperlukan pengawasan ketat terhadap praktik monopoli dan penimbunan serta diperkuat dengan regulasi yang tegas.

Yusuf menambahkan pemerintah juga perlu untuk memastikan bantuan dalam bentuk operasi pasar hadir di daerah dengan potensi kenaikan harga pangan yang relatif tinggi dibandingkan daerah lain.

Sementara itu, harga komoditi seperti cabai rawit di pasar tradisional masih tinggi, seperti yang terjadi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Harga cabai rawit mencapai Rp 150 ribu per kilogram.

Editor: Maswin (maswin.investorID@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 7 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini Terkerek Ringan

Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam hari ini terkerek ringan. Cek juga harga buyback emas Antam.
Market 8 menit yang lalu

Ada yang Ketok Dividen Hari Ini, Biasanya Gede

Salah satu saham yang menarik untuk dikoleksi adalah saham BRI (BBRI). BBRI sendiri menggelar RUPST hari ini.
Market 30 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 59 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia