Menkes: Penanganan Kanker Hadapi Tantangan Pembiayaan

JAKARTA, Investor.id – Tantangan penanganan kanker tidak saja persoalan medis, tetapi juga masalah pembiayaan dan pendanaan. Oleh sebab itu, dibutuhkan sinergi positif antarpemangku kepentingan dan kebijakan di sektor kesehatan, mulai dari pelaku dan pelayanan kesehatan, penyedia asuransi, serta pembiayaan dalam mengatasi kanker.
Hal itu ditegaskan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam sambutan yang dibacakan Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Kemenkes Ahmad Irsan A. Moeis di diskusi seputar penanganan kanker di Indonesia bertajuk “Critical Role of Private Insurance in Personalized Cancer Care Coverage”, belum lama ini. Acara ini digelar oleh PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) dan dihadiri oleh 70 orang partisipan yang merupakan pelaku industri asuransi jiwa.
Diskusi ini merupakan bagian rangkaian memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari. Kegiatan ini melibatkan para pemangku kebijakan dan kepentingan dunia kesehatan dalam menghadapi momok kanker di Indonesia.
Baca Juga:
Pentingnya Kesadaran Deteksi Dini KankerMenkes mengatakan, mengacu data dan fakta, saat ini, kanker menjadi salah satu momok global. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (Globocan), pada tahun 2022, Indonesia mencatat 408.661 lebih kasus baru dengan 242.099 kematian akibat kanker. Bahkan, jika tidak ada intervensi yang efektif, jumlah kasus ini diperkirakan meningkat 63% pada tahun 2040.
Merujuk data Kemenkes, terdapat sedikitnya 6,3 juta orang berkunjung ke rumah sakit dengan diagnosis kanker. “Jumlah itu baru yang didata dari kunjungan ke rumah sakit, dan pengguna JKN [Jaminan Kesehatan Nasional],” singgung Menkes, dikutip dari siaran pers, Jumat (28/2/2025).
Persoalannya, dari total kunjungan tersebut saja, setidaknya menghabiskan anggaran JKN sekitat Rp 13 triliun. Karena itu, tantangan penanganan kanker tidak saja persoalan medis, tetapi juga masalah pembiayaan dan pendanaan.
Baca juga: Penderita Kanker Diperkirakan Naik 77% di 2050
Lebih jauh, pembiayaan kanker kian jadi penting, mengingat penanganan yang kompleks, serta belum terbiasanya masyarakat melakukan pemeriksaan.
Hal ini terbukti dari statistik, terdapat 2 dari 3 penderita kanker, mengetahui diagnosis saat penyakit dalam stadium berat. Masalahnya, penanganan kanker stadium berat itu membutuhkan berbagai terapi, mulai dari kemoterapi hingga imunoterapi.
Misi Tugure
Presiden Direktur Tugure Teguh Budiman mengatakan kegiatan ini merupakan komitmen perusahaan melalui Tugure Academy untuk meningkatkan literasi maupun upaya berkontribusi terhadap industri asuransi.
Baca jugPerempuan Diimbau Deteksi Dini Kanker a:
Tugure, kata Teguh, menilai penanganan kanker sangat mendesak dan membutuhkan kerja sama semua pihak. Pada kenyataan, lanjut dia, setiap individu yang mengidap kanker memiliki kebutuhan penanganan berbeda.
“Sayangnya, keterlambatan diagnosis dan keterbatasan jaminan kesehatan masih menjadi kendala utama dalam meningkatkan kualitas hidup pasien,” tegas dia.
Sebaliknya, Teguh menjelaskan meski saat ini masyarakat sudah banyak terbantu dengan program BPJS Kesehatan yang menjadi fondasi utama sistem kesehatan nasional, kasus kanker terus bertambah.
“Banyaknya kasus kanker membutuhkan berbagai jenis terapi, seperti pengobatan inovatif seperti terapi target dan imunoterapi, peran asuransi kesehatan swasta menjadi semakin penting dalam memperluas akses terhadap terapi yang lebih efektif,” ungkap Teguh.
Oleh karena itu, Teguh mengharapkan lewat diskusi ini bisa membuka berbagai bahasan tantangan sekaligus bisa mendapatkan solusi dari berbagai perspektif. “Harapannya, kami dapat mengkaji regulasi serta pembiayaan yang mendukung pengendalian kanker,” tutup Teguh.
Editor: Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV