Senin, 24 Maret 2025

Waspada Investasi Ilegal, Celios Tekankan Pentingnya Prinsip “Legal dan Logis”

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah
27 Feb 2025 | 21:16 WIB
BAGIKAN
Pemimpin redaksi Investor Daily, Djaka Susila (kiri), Direktur Utama Dupoin Indonesia Gunawan (dua kiri), Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Cecep Setiawan (dua kanan), dan Direktur Ekonomi Digital Center Of Economic And Law Studies (CELIOS), dalam talkshow dengan tema "Menguatkan Literasi Keuangan Digital di Era Transformasi Teknologi" yang diselenggarakan Dupoin dan didukung Berita Satu di Jakarta, Kamis (27/2/2025). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Pemimpin redaksi Investor Daily, Djaka Susila (kiri), Direktur Utama Dupoin Indonesia Gunawan (dua kiri), Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Cecep Setiawan (dua kanan), dan Direktur Ekonomi Digital Center Of Economic And Law Studies (CELIOS), dalam talkshow dengan tema "Menguatkan Literasi Keuangan Digital di Era Transformasi Teknologi" yang diselenggarakan Dupoin dan didukung Berita Satu di Jakarta, Kamis (27/2/2025). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Seiring kemudahan akses keuangan dan investasi di Indonesia, risiko penipuan investasi juga semakin tinggi. Direktur Ekonomi Digital Centre of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih instrumen investasi, terutama yang dipromosikan melalui media sosial.

Menurut Nailul, perkembangan teknologi digital dan media sosial telah membuka akses informasi keuangan yang lebih luas, tetapi di sisi lain juga meningkatkan risiko masyarakat terjebak dalam investasi bodong.

“Ketika media sosial booming saat pandemi Covid-19, terbukalah kenyataan bahwa banyak masyarakat kita masih belum bisa memilih dan memilah informasi yang benar terkait investasi,” ujar Nailul dalam diskusi bertajuk 'Menguatkan Literasi Keuangan Digital di Era Transformasi Teknologi' yang diselenggarakan Dupoin dan didukung Berita Satu di Jakarta, Kamis (27/2/2025). 

Advertisement

Ia menyoroti marak tren ‘muda dan kaya’ pada beberapa tahun terakhir, dimana banyak anak muda tertarik berinvestasi tanpa memahami risiko yang ada. Hal tersebut diperparah dengan banyaknya influencer yang hanya menampilkan keuntungan tanpa menjelaskan risiko di baliknya.

“Akhirnya, muncul investasi-investasi bodong yang menjanjikan keuntungan besar tanpa dasar yang jelas,” ujar Nailul Huda.

Dua Prinsip Utama: Legal dan Logis

Untuk menghindari jebakan investasi ilegal, Nailul menekankan pentingnya menerapkan dua prinsip utama, yaitu legal dan logis:

  1. Legalitas Terjamin. Sebelum berinvestasi, masyarakat harus memastikan bahwa produk tersebut memiliki izin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau lembaga berwenang lainnya.

    “Jika suatu investasi tidak memiliki legalitas yang jelas, sebaiknya hindari,” tegas Nailul.

  2. Logis dalam Imbal Hasil – Masyarakat juga harus mempertanyakan apakah imbal hasil yang dijanjikan masuk akal.

    “Jarang sekali ada investasi yang memberikan keuntungan 30% per bulan. Jika ada yang menawarkan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat, patut dicurigai,” jelasnya.

Sebagai contoh kasus skema Ponzi MMM (Manusia Membantu Manusia). Dalam kasus ini, modus yang dipakai yaitu menawarkan keuntungan besar, tetapi berakhir merugikan banyak orang. “Model seperti ini tidak logis dan berisiko tinggi. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami profil risiko sebelum berinvestasi,” ujar Nailul.

Pahami Profil Risiko Sebelum Berinvestasi

Selain memahami prinsip legal dan logis, Nailul juga menekankan pentingnya mengenali profil risiko diri sendiri. Dalam investasi, terdapat dua tipe investor:

  1. Risk Averse (Hindari Risiko). Tipe investor ini yang lebih memilih instrumen investasi dengan risiko rendah, seperti deposito atau obligasi pemerintah.

  2. Risk Lover (Suka Risiko). Mereka yang masuk tipe ini adalah investor yang lebih berani mengambil risiko tinggi, seperti trading saham atau forex, dengan harapan mendapatkan keuntungan besar.

Di samping itu, ia juga mengingatkan bahwa anak muda cenderung lebih berani mengambil risiko tanpa pemahaman yang cukup. “Banyak anak muda yang masuk ke investasi dengan volatilitas tinggi tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Bahkan, meskipun legal, risiko tetap ada,” pungkas Nailul Huda.

Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 43 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia