Senin, 24 Maret 2025

BI: Gejolak di Pasar Saham Bersifat Temporer

Penulis : Arnoldus Kristianus
19 Mar 2025 | 19:23 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesa Perry Warjiyo (kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (tengah) dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung (kanan) bersiap menyampaikan paparan saat konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Gubernur Bank Indonesa Perry Warjiyo (kiri) didampingi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti (tengah) dan Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung (kanan) bersiap menyampaikan paparan saat konferensi pers hasil rapat Dewan Gubernur di Gedung Thamrin Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (19/3/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

JAKARTA, investor.id – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menilai gejolak yang terjadi di pasar saham saat ini disebabkan oleh tekanan perekonomian global. Khususnya yang berhubungan dengan kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS).

Destry mengatakan secara kumulatif dari Januari hingga Maret tercatat modal asing keluar dari pasar saham senilai Rp 22 triliun. Namun pada saat yang sama modal asing masuk melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai Rp 25 triliun. Ekspektasi pelaku untuk SBN dan SRBI tetap berdasarkan fundamental perekonomian nasional.

“Jadi ini yang kita harapkan bahwa apa yang terjadi kemarin itu sifatnya temporer karena tentunya juga shock dengan kebijakan-kebijakan yang ada di global,” ucap Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan Maret 2025 di Gedung Thamrin, BI pada Rabu (19/3/2025).

Advertisement

Sebagai informasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan di BEI pada pukul 11:19:31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) yang dipicu IHSG mencapai 5%.

Pembekukan sementara itu dilakukan sesuai dengan Surat Keputusan Direksi BEI Nomor: Kep-00024/BEI/03-2020 tanggal 10 Maret 2020 perihal Perubahan Panduan Penanganan Kelangsungan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia dalam Kondisi Darurat.

Dia mengatakan koreksi di pasar saham sudah terjadi sejak akhir tahun 2024 lalu. Kondisi pasar saham sangan berkaitan erat dengan ekspektasi pelaku pasar terhadap perekonomian.

“Saham itu memang sangat dekat dengan sentimen di ekonomi, baik itu global yang akhirnya mempengaruhi ke domestik. Kalau kita lihatkan berbagai policy dari Presiden Trump, itu akan memberikan dampak terhadap ekonomi secara keseluruhan,” terang Destry.

Destry menegaskan bahwa BI konsisten di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Penguatan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental melalui intervensi di pasar valas pada transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan SBN di pasar sekunder.

“Bank Indonesia akan terus berada di market untuk menunjukkan kepada market bahwa koreksi rupiah ini diharapkan memang temporary, sehingga BI masuk langsung kita diintervensi untuk spot ataupun di DNDF dan juga kalau diperlukan kita masuk di SBN,” terang Destry.

Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 39 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia