Senin, 24 Maret 2025

Permodalan Jadi Kunci Industri Asuransi Hadapi Tantangan di 2025

Penulis : Heru Febrianto
27 Feb 2025 | 13:44 WIB
BAGIKAN

JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut kondisi industri asuransi komersial nasional dalam kondisi yang solid. Premi tetap tumbuh dan permodalan asuransi tetap dalam kondisi solid di 2024.

Data OJK menunjukkan nilai aset asuransi komersial per Desember 2024 mencapai Rp 827,9 triliun atau tumbuh 2% dibanding tahun sebelumnya. Sementara nilai premi asuransi komersial mencapai Rp 280,39 triliun di 2024 dan catatkan pertumbuhan 4,34%.

Adapun segmen asuransi jiwa mencatatkan premi sebesar Rp 162,68 triliun atau naik 3% sedangkan asuransi umum mencatatkan perolehan premi Rp 117,7 triliun atau tumbuh 6%.

Advertisement

Sementara dari sisi permodalan yang tercermin dari Risk Based Capital (RBC), kondisi asuransi jiwa, asuransi umum dan reasuransi juga dalam kondisi yang baik. RBC asuransi jiwa per akhir Desember 2024 berada di 420,7% sedangkan untuk asuransi umum dan reasuransi berada di 325,9%.

Kondisi RBC industri asuransi jiwa, asuransi umum dan reasuransi tersebut bahkan berada di atas ketentuan minimal yang ditetapkan di OJK yaitu di 120%.

“Permodalan menjadi aspek penting untuk sektor jasa keuangan terutama asuransi. Tahun 2024 menjadi tahun yang cukup menantang karena volatilitas di pasar keuangan global, risiko perlambatan ekonomi dunia hingga kondisi politik yang menantang. Dengan solvabilitas yang kuat, perusahaan asuransi dapat menavigasi berbagai tantangan dengan baik,” ujar analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis dalam risetnya dikutip di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Untuk tahun 2025, kondisi permodalan masih menjadi aspek penting untuk industri asuransi karena adanya berbagai risiko yang masih perlu dicermati salah satunya seperti kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang proteksionis dan menerapkan tarif tinggi.

Menurut Azis, kebijakan tarif tinggi berpotensi menimbulkan berbagai efek domino mulai dari fluktuasi harga aset dan instrumen investasi, fenomena flight to safety assets, rantai pasok global yang berisiko kembali terfragmentasi, kemungkinan meningkatnya inflasi hingga ruang pemangkasan suku bunga yang lebih terbatas.

Berkaca pada kinerja emiten asuransi yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), kondisi permodalan atau RBC masih dalam kondisi yang solid.

“Meskipun secara size dari sisi aset, ekuitas dan gross written premium (GWP) emiten berbeda-beda, tetapi secara umum kondisi RBC emiten asuransi sudah berada di atas ketentuan modal minimal OJK. Sehingga risiko kredit, risiko likuiditas, risiko pasar, risiko asuransi hingga risiko operasional dapat dikelola dengan baik sehingga di tengah berbagai tantangan yang ada, ruang ekspansi perusahaan asuransi yang listed masih terbuka di 2025,” paparnya.

Menurut catatan Azis, RBC emiten asuransi umum per akhir Desember 2024 berada di kisaran 164% - 717% dengan nilai tengah atau median di 324%. Di antara belasan emiten asuransi umum yang melantai di BEI, Azis melihat PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance/TUGU) sebagai asuransi umum yang memiliki permodalan kuat tidak hanya dari sisi RBC tetapi juga nilai modal yang besar.

Mengacu pada laporan keuangan bulanan TUGU (parent only) yang tidak diaudit, Rasio Kecukupan Investasi (RKI) TUGU per akhir Desember berada 592%. RKI TUGU juga berada jauh dari ketentuan minimum yaitu 100%.

Sementara itu dari sisi laba rugi non-konsolidasi untuk TUGU (parent only), jumlah pendapatan premi bruto TUGU mencapai Rp 5,7 triliun dan mencatatkan pertumbuhan 12% dibanding tahun sebelumnya serta melampaui pertumbuhan industri.

Kemudian jumlah pendapatan underwriting mencapai Rp 1,4 triliun per akhir Desember 2024 atau naik 21% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya untuk hasil underwriting mencapai Rp 845 miliar dan mengalami kenaikan 17% dibanding tahun sebelumnya.

Untuk laba usaha asuransi TUGU (parent only) per akhir Desember 2024 mencapai Rp 730 miliar yang menunjukkan pertumbuhan sebesar 56% dibanding tahun sebelumnya.

Editor: Heru Febrianto (Heru.Djaafar@b-universe.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
IDTV Link
LIVE STREAMING

Saksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV

BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

Saham Pilihan untuk Trading 24 Maret dan Target Harganya

IHSG hari ini diprediksi melemah. Simak saham pilihan untuk trading 24 Maret dan target harganya
Market 42 menit yang lalu

BBCA Mumpung Diskon, Harganya Bisa ke Level Ini

BBCA sedang diskon secara valuasi. Simak rekomendasi terbaru saham BBCA atau BCA ini.
Business 1 jam yang lalu

Harga Beli Beras di Bulog Idealnya Rp 13 Ribu per Kg

Pengadaan Bulog saat ini mayoritas berupa gabah.
Market 1 jam yang lalu

Prospek Cuan BBRI Menipis, Ada Apa?

Prospek cuan saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) atau BRI tipis, berdasarkan riset Mandiri Sekuritas (Mansek). Simak rekomendasi saham BBRI.
Market 1 jam yang lalu

Harga Bitcoin Menanjak, Didorong Inflow ETF Besar

Harga Bitcoin menanjak ke level US$ 85 ribu didorong inflow ETF spot yang besar pada pekan lalu.
Market 2 jam yang lalu

IHSG Fluktuatif Jelang Libur Panjang, 6 Saham Dijagokan Cuan

Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pekan ini fluktuatif jelang libur panjang, rekomendasikan enam saham dijagokan cuan, salah satunya ASII

Tag Terpopuler


Copyright © 2025 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia