Perlu Win Win Solution Atasi Kemelut Aturan Angkutan Barang

JAKARTA, investor.id - Pelaku usaha importasi mengimbau pemerintah dapat mencarikan jalan tengah atau win-win solution untuk tetap menjamin kelancaran arus barang dan logistik.
Hal itu berkaitan dengan adanya rencana stop operasi perusahaan angkutan barang yang mempersoalkan aturan pembatasan operasional trucking selama 16 hari yakni menjelang dan pasca Lebaran 2025.
Pengurus Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Erwin Taufan mengemukakan jika stop operasi benar-benar terjadi justru dikhawatirkan memengaruhi aktivitas logistik dan melemahkan kegiatan perekonomian nasional. Apalagi pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini tengah mengejar target pertumbuhan ekonomi 7 s/d 8%.
Aktivitas di pelabuhan-pelabuhan utama yang layani ekspor impor termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta yang layani lebih 65% arus barang internasional dan domestik juga berpotensi alami kepadatan lantaran receiving dan delivery terhambat jika trucking melakukan stop operasi.
Oleh karenanya, imbuh Taufan, otoritas pelabuhan maupun pengelola terminal peti kemas ekspor impor di Pelabuhan Tanjung Priok perlu mengantisipasi kondisi ini dengan tetap menjaga yard occupancy ratio (YOR) di terminal lini 1 pelabuhan agar terhindar dari kepadatan atau kongesti.
"Kalau kongesti di pelabuhan, ujung-ujungnya kita semua termasuk masyarakat bakal rugi lantaran perputaran ekonomi dan logistik dari sentra-sentra industri (hinterland) maupun pelabuhan akan terimbas lantaran barang menumpuk lebih lama di dalam pelabuhan. Karenanya, pemerintah agar lebih bijaksana dalam merespon persoalan ini," ujar Taufan, pada Jumat (14/3/2025).
Dia mengatakan, selagi masih ada waktu, persoalan pembatasan angkutan barang saat Lebaran tahun ini bisa didiskusikan kembali dengan para stakeholders terkait termasuk dengan GINSI selaku wadah perusahaan importir/pemilik barang.
"Sebaiknya kita duduk bersama antara regulator dan stakholders (pelaku bisnis) melaui asosiasi terkait untuk mencari win-win solution-nya, dengan tujuan agar angkutan penumpang (arus mudik dan balik) Lebaran tetap berlangsung, namun arus logistik juga tidak terhambat," ucap Taufan.
Menurutnya, kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan (receiving dan delivery) perlu kepastian karena layanan bongkar muat dan kapal berlangsung nonstop atau 24/7.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV