Awina Sinergi International Gandeng ELM Inc Kembangkan Teknologi PLTS

JAKARTA, investor.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendukung langkah ELM Inc., salah satu perusahaan energi terkemuka asal Jepang, bekerjasama dengan PT. Awina Sinergi International dalam mengembangkan teknologi untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia.
Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan, meskipun pembangunan PLTS saat ini masih di bawah 1GW dan target penambahan kapasitas dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030 sebesar 4.680 MW (4,68 GW) atau sebesar 700MW per tahun, namun target PLTS dalam RUPTL 2025-2034 jauh lebih ambisius yaitu 16.6 GW.
"Kendati kapasitas PLTS yang terpasang hingga akhir tahun 2024 mencapai lebih dari 917 MWp, namun Pemerintah menetapkan target kapasitas terpasang energi terbarukan sebesar 4,6 GWp hingga 16.6GW di 2034," ungkap Eniya, usai sambutan pada seminar "Presentasi Hasil Uji Teknologi Tracking Mounting Solar PV Sebagai Salah Satu Upaya Mendukung Target Pencapaian Energi Surya dalam Pencapaian NET Zero Emission Tahun 2060 di Indonesia", di Jakarta, Selasa (18/02/2025).
Target tersebut, sambung Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, diharapkan mampu mendorong lebih banyak pihak berpartisipasi baik industri, perusahaan, investor, perguruan tinggi, dan masyarakat. Sebab, partisipasi pelaku bisnis menjadi sangat penting mengingat berbagai tantangan yang dihadapi dalam mencapai target energi surya di tanah air tidak ringan.
Eniya merinci, sejumlah tantangan dimaksud antara lain adalah teknologi yang reliable, hilirisasi industri, ketrampilan teknis SDM, efisiensi ekonomi, investasi, maupun ketersediaan dan harga lahan untuk pembangunan pembangkit terutama PLTS ground mounted.
Karenanya, pihaknya mendukung kerja sama kedua perusahaan ini dalam mengembangkan PLTS di Indonesia. "Kami mendukung penuh aksi kedua perusahaan tersebut yang akan mengembangkan teknologi single axis tracking mounting untuk mendukung target capaian PLTS di Indonesia sehingga dapat menghasilkan energi surya lebih besar," tegas Dirjen EBTKE.
Director Head of Business Inovation Department ELM Inc., Katsumi Kamaru, menjelaskan bahwa teknologi single axis tracking mounting untuk pembangunan PLTS ini telah diterapkan pada banyak lokasi di Jepang.
"Selama lebih dari 10 tahun kami telah mengembangkan single axis tracking mounting bagi pengembangan PLTS untuk energi listrik ramah lingkungan di berbagai kota di Jepang. Kini, saatnya ekspansi membawa teknologi ke berbagai negara yang membutuhkan, salah satunya Indonesia," paparnya.
Menurut Katsumi Kamaru dipilihnya Indonesia sebagai negara tempat pengembangan bisnis ELM Inc. bukan tanpa alasan. Selain memiliki komitmen yang tinggi dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan, teknologi single axis tracking mounting untuk PLTS juga sangat memungkinkan dikembangkan dengan komponen mounting yang lebih murah di Indonesia.
Kemudian, kontrol dan monitoring system jarak jauh, mudah dalam instalasi, membantu pembersihan panel PV secara otomatis, aman dari bencana alam serta memberikan efisensi biaya lebih murah dengan jumlah mounting yang lebih sedikit. "Dalam mengimplementasikan single axis tracking mounting untuk PLTS di Indonesia, kami bekerjasama dengan mitra lokal, yaitu PT. Awina Sinergi International, yang fokus dalam penjembatan transfer teknologi dan marketing di Indonesia," kata Katsumi Kamaru.
Pada kesempatan yang sama, President Director PT Awina Sinergi International, Ananda Setiyo Ivananto mengatakan, tingkat efisiensi pemanfaatan teknologi single axis tracking mounting untuk PLTS telah teruji secara akademis. Karenanya, perseroan punya fokus untuk memberikan produk dengan kandungan komponen lokal setinggi mungkin serta efisiensi biaya investasi serendah mungkin. Saat ini, kerangka tracking mounting sudah mampu diproduksi di Indonesia, hanya komponen motor yang masih diproduksi oleh ELM Inc. di Jepang.
Penelitan tentang manfaat penggunaan teknologi single axis tracking mounting untuk PLTS dilakukan oleh PT Awina Sinergi International bekerjasama dengan Fakultas Teknik Universitas Udayana pada 2024. Hasilnya, cukup menggembirakan. Data November 2024 hingga Januari 2025 menunjukkan peningkatan produksi solar energi dari tracking mounting solar PV sebesar 1.2-2 kali lipat.
Pada periode November 2024 - Januari 2025, rata-rata produksi energi surya dengan mengadopsi teknologi tracking mounting mencapai 1.35 kali lebih besar dibanding fixed mounting. Bahkan pada November 2024, produksi energi meningkat hingga 1.57 kali lipat. Padahal, pada tiga bulan itu merupakan periode musim hujan.
Presiden Komisaris PT. Awina Sinergi International, Nakamura Hirohide menambahkan, mengacu pada tren tersebut maka produksi energi surya dengan tracking mounting dapat dipastikan akan jauh lebih besar saat musim kemarau. Selain itu, dari sisi efisiensi juga tidak diragukan. Dengan teknologi tracking mounting penggunaan satu unit motor hanya mengkonsumsi energi 1,28 kWh per hari dan mampu menggerakkan rangkaian kerangka PLTS sebesar 200 KWp.
"Kami optimis, implementasi teknologi tracking mounting PLTS dengan kandungan komponen lokal sebesar mungkin serta alih teknologi dapat menjadi salah satu solusi untuk mendukung percepatan pencapaian pembangunan tenaga surya di Indonesia tahun 2060," pungkas Nakamura Hirohide.
Editor: Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowSaksikan tayangan informasi serta analisis ekonomi, keuangan, dan pasar modal di IDTV